Menyiapkan Souvenir

Di malam yang tenang ini, saya tengah asik menyiapkan souvenir di rumah Amalia. Ya, kalian tidak salah membaca kok, saya dan Amalia sedang menyiapkan souvenir.

Bukan, kami bukan sedang membantu saudara yang hendak menikah, bukan pula memiliki usaha souvenir dan hendak mengirimkannya ke pembeli. Sejujurnya, souvenir yang kami siapkan itu adalah milik kami.


Ya, pada akhirnya saya dan Amalia memutuskan untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Di bulan April kemarin, saya juga telah membawa kedua orang tua dan sanak saudara saya untuk pergi ke rumah Amalia dan melamarnya.


Pada saat itu banyak sekali yang ingin saya ceritakan dan tuliskan di sini, hanya saja saya bingung mulai darimana.


Saya mungkin sedikit banyak telah bercerita tentang saya dan Amalia di blog ini, tapi ya begitulah, memang tidaklah mudah menjalin dan mempertahankan sebuah hubungan.


Hingga pada akhirnya kami sepakat, kami saling membutuhkan, dan memantapkan hati bahwa ingin selalu bersama sampai selama mungkin.


Dan saat ini saya sedang menyiapkan souvenir, waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih 30 menit, sudah cukup larut bagi saya yang terbiasa tidur jam 10 lewat. Tapi entah kenapa mata masih saja menyala malam ini dan rasa lelah seperti enggan memeluk tubuh ini.


"Udah malem, mau pulang jam berapa? Istirahat aja nanti aku lanjut sendiri." Ucap Amalia kepada saya yang sedang sangat fokus.


"Nanti lah sekitar jam 10 lewat aja." Balas saya dengan mata yang masih fokus melipat kardus souvenir.


Sejujurnya rasa kantuk ada, lelah juga ada, tapi antusias saya tetaplah tinggi untuk menyelesaikan souvenir ini. Bagaimana tidak, pada akhirnya saya akan menikah dengan orang yang sedari dulu saya cinta. Bagaimana mungkin saya tidak antusias?.


Pukul 10 lewat 15 menit, akhirnya saya menyerah juga. Bukan karena lelah, tapi sepertinya saya sudah terlalu malam berkunjung, saya pun berpamitan ke kedua orang tua Amalia, lalu pulang.


Sejauh ini, saya dan Amalia merasakan tidaklah mudah mempersiapkan pernikahan. Akan tetapi, kami tidak henti-hentinya berdoa agar selalu diberikan kemudahan dan jalan terbaik untuk semuanya. Semoga dapat berjalan sesuai harapan dan pernikahan kami nanti selalu diberkahi kebahagiaan sampai selama-lamanya.


(Bekasi, 17 Juli 2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menonton Film Sekawan Limo

Menerapkan Sistem Cicilan dalam Latihan Otot

Sebuah Tempat Pengganti Kafe Susu