Sebuah Catatan Kecil di Dalam Dompet
Pada suatu pagi di bulan April, ketika saya menjemput Amalia untuk olahraga bareng di hari Minggu, Amalia memberikan sesuatu kepada saya.
"Kali ini kadonya nggak yang mahal ya, tapi insyaallah berguna banget buat mas." Ucap Amalia dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Aduh makasih banget, harusnya mah nggak usah repot-repot." Balas saya sembari menerima kado yang ia berikan.
Amalia memberikan saya kado dalam rangka saya yang berulang tahun ke 27 di bulan April kemarin. Selayaknya orang pada umumnya, kamu terkadang saling memberikan kado satu sama lain jika ada yang sedang berulang tahun.
Tidak seperti kado sebelumnya, kado kali ini jauh lebih kecil dan cenderung pas di genggaman tangan saya. Saya jadi penasaran, apa sih sebenarnya yang ia berikan dan pada saat itu juga saya membukanya.
Isinya adalah tasbih digital dan buku saku yang memuat dzikir pagi dan petang di dalamnya. Amalia bilang, ia ingin saya untuk tidak lupa bersyukur di setiap harinya, bahkan setiap detik kalau memungkinkan, maka dari itu kado seperti itu yang ia berikan.
Namun, justru bukan tasbih digital atau buku kecil itu yang paling lama tinggal di pikiran saya. Ada selembar catatan yang Amalia selipkan di dalamnya.. Di catatan saku itu tertulis harapan dan doa-doa untuk saya dari Amalia. Selain itu, Amalia juga mengungkapkan segala keluh kesahnya terhadap saya, ia mengingatkan saya agar jangan terlalu cemas terhadap dunia.
Selagi saya selalu menjalankan perintah Yang Maha Kuasa dan juga selalu berusaha dalam hidup, Amalia percaya akan ada hal baik di ujung jalan nantinya.
Dalam tulisannya, Amalia juga mengingatkan untuk jangan terlalu menyibukkan diri mencari rezeki, sampai lupa akan siapa sesungguhnya yang memberikan rezeki itu. Berdzikir adalah salah satu cara yang Amalia ingatkan kepada saya.
Di sepanjang hari itu, sejak diberikannya kado itu sampai malam, saya selalu merenungi apa yang Amalia tuliskan di catatan saku kecil itu. Jujur saya merasa tertampar dan tersadar. Tidak, saya bukan tipikal orang yang merasa hal seperti itu terkesan menggurui, justru bagus, itu adalah peringatan yang baik untuk saya pribadi.
Selain itu, ada rasa hangat di dalam dada saya ketika saya membaca tulisan Amalia berulang kali. Karena bagi saya, Amalia adalah tipikal perempuan yang tidak bisa secara gamblang mengungkapkan perasaannya dan lewat tulisan itu saya bisa merasakan betapa besar rasa cinta ia kepada saya.
Tasbih digital, buku saku dzikir pagi dan petang, lalu sebuah catatan kecil, mungkin terdengar remeh tapi ternyata berdampak besar bagi saya. Sukses mengaduk-aduk perasaan saya.
Karena kado itu sangat berkesan bagi saya, termasuk catatan kecilnya, maka catatan itu selalu saya simpan di dompet dan tidak pernah saya keluarkan atau dipindahkan ke tempat lain. Sesekali saya baca dan saya akan tersenyum setelahnya.
(Bekasi, 20 Juli 2026)

Komentar
Posting Komentar